Bekantan Berkurang, Perlu Perkam di Pulau Besing

Jumlah Bekantan di Pulau Besing, Kecamatan Gunung Tabur, yang sempat ramai diperbincangkan karena keberadaannya cukup banyak, kini semakin berkurang. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut mulai dari perburuan, hingga aktivitas manusia di sekitar habitatnya. Terlebih, Pulau Besing yang saat ini sudha menjadi salah satu objek wisata di Berau, tentunya menjadi tempat kunjungan wisatawan. Untuk itu, perlu adanya peraturan yang mengatur terkait bagaimana seharusnya berinteraksi dengan Bekantan.

Dikatakan Kepala Seksi Destinasi Pariwisata Berau, Risma Rosehan, SE ketika ditemui Rabu (4/12), untuk peraturan tersebut sudah dibicarakan dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Berau, beberapa waktu lalu.

“Memang seharusnya ada peraturan setidaknya peraturan kampung guna mengatur bagaimana tata cara pengunjung atau wisatawan berinteraksi dengan Bekantan. Juga, adanya jarak atau radius pasti antara wisatawan dengan Bekantan, agar hewan tersebut tidak merasa terganggu dengan kegiatan di sekitarnya, karena termasuk hewan sensitif,” jelasnya.

Obyek wisata alam hutan Mangrove di Pulau Besing semakin menyenangkan dengan paduan pemandangan primata hidung panjang atau Bekantan yang hidup bebas di dalam hutan Mangrove Pulau Besing. Setiap pagi dan sore hari, primata yang memiliki nama latin Nasalis Larvatusini terlihat bermain dan bersantai di atas pohon yang berjajar di pinggir sungai Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Dari hasil penelitian, Kabupaten Berau merupakan daerah kabupaten di kalimantan yang memiliki jumlah populasi endemik Borneo terbanyak. Dari 2 daerah saja terhitung sekitar 1.400 ekor Bekantan.

Beberapa pulau di Delta Berau diketahui memiliki konsentrasi populasi tinggi, seperti Pulau Besing dan Tanjung Perengat. Jumlah tersebut baru mencakup 30% dari luasan Delta Berau yang telah disurvey. Delta Berau sendiri terletak di antara muara Sungai Berau, sekitar 50 Km sebelah Timur Tanjung Redeb, Ibu Kota Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan tersebut membentang hingga pesisir pantai  yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi.Terdapat puluhan pulau di sekitar Delta Berau baik yang telahditempati manusia ataupun belum dengan ciri khas vegetasi mangrove. (bangun banua)

 

Reduced Proboscisants, Need to Cemetery on Besing Island

The number of Bekantan on Besing Island, Gunung Tabur Subdistrict, which had been widely discussed because of its considerable presence, is now diminishing. Many factors affect it from hunting, to human activities around their habitat. Moreover, Besing Island, which is currently one of the attractions in Berau, is certainly a tourist destination. For this reason, there is a need for regulations governing how to interact with Bekantan.

The Head of the Berau Tourism Destination Section, Risma Rosehan, SE, when met on Wednesday (4/12), for the regulation, was discussed with the Berau Tourism Awareness Group (Pokdarwis), some time ago.

“Indeed there should be at least village regulations to regulate how visitors or tourists interact with Bekantan. Also, there is a definite distance or radius between tourists and Bekantan, so that the animal does not feel disturbed by the activities around it, because it is a sensitive animal, “he explained.

Mangrove forest tourism object in Besing Island is more fun with a combination of long nose primate or Bekantan views that live freely in the Mangrove forest of Besing Island. Every morning and evening, primates with the Latin name Nasalis Larvatusini are seen playing and relaxing in a tree lined on the banks of the Berau river, East Kalimantan (East Kalimantan). From the results of the study, Berau Regency is a district in Kalimantan which has the most endemic populations of Borneo. Of the 2 regions alone there are around 1,400 Bekantan tails.

Some islands in the Berau Delta are known to have high population concentrations, such as Besing Island and Tanjung Perengat. This amount only covers 30% of the Berau Delta area surveyed. Berau Delta itself is located between the mouth of the Berau River, about 50 Km east of Tanjung Redeb, the capital city of the district of Berau, East Kalimantan Province. The area stretches to the coast directly facing the Sulawesi Sea. There are dozens of islands around the Berau Delta, both human and not yet characterized by mangrove vegetation.

Post a comment

Book your tickets