Desain Motif Tenun Khas Berau Dikolaborasi

PENGRAJIN tenun di Kabupaten Berau telah mengikuti pelatihan pembuatan desain dan pewarnaan selama pekan  lalu di Hotel Parama  yang diadakan Diskoperindag Berau bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Berau, kini sudah menghasilkan beberapa motif khas yang nantinya akan diaplikasikan di karya tenun yang dihasilkan.

Dikatakan Ketua Kelompok Tenun Berau Mama Sonya Da Silva, bahwa pelatihan yang diikuti oleh kelompok tenun tersebut, meskipun singkat sangat bermanfaat. Pasalnya, dari pelatihan tersebutlah mereka mendapatkan pengetahuan baru bahkan menghasilkan desain baru khas Kalimantan dengan tidak meninggalkan ikon penyunya.

“Pelatihan ini sangat membantu kita para penenun agar lebih kreatif dan inovatif dalam mendesain suatu motif, selain itu juga lebih banyak lagi mengenal macam-macam atau jenis pewarnaan dimana cara pemakaiannya cukup mudah dan praktis serta ketahanan warnanya yang tidak gampang luntur meskipun sudah dicuci berulang kali, padahal bahan yang digunakan juga sama dengan yang biasa kami gunakan seperti kunyit dan lainnya, tetapi ada cara pengaplikasiannya sehingga warnanya bisa awet,” jelasnya.

Tercatat, memang sudah ada beberapa desain khusus motif tenun yang dihasilkan oleh para penenun yang terus dikembangkan di rumah tenun. Desain tersebut adalah motif anak penyu atau tukik, motif tukik dan terumbu karang, motif cindai, motif kangkung dan motif rutun. Tetapi, dengan adanya pelatihan pada Rabu (24/10) lalu berupa pemberian teori membuat desain yang bertempat di Hotel Palmy Jalan SA Maulana Tanjung Redeb, dan Kamis (25/10) berupa praktik langsung pengaplikasian desain baru pada tenun, yang bertempat di rumah tenun Mamabe di Kampung Tumbit Melayu Kecamatan Sambaliung. Lahir lagi beberapa desain tenun baru yang akan menambah motif khas buatan para penenun Berau.

“Dulu kita hanya mengembangkan motif khas Berau, tetapi sekarang kita sudah bisa mendesain motif khas Berau dikolaborasi dengan motif lain yang ada di Kalimantan, seperti motif kalung klawit, motif hudog liva atau topeng cantik, motif bluvung besulam, motif kaumbakan, motif umbak sinapur karang, dan motif penyu dengan ukiran dayak,” imbuhnya.

Dengan begini, kata Sonya, dirinya dan penenun lainnya akan terus belajar menghasilkan desain-desain baru yang nantinya akan dapat menjadi oleh-oleh khas dari Kabupaten Berau, yang bisa juga dipasarkan di daerah wisata seperti Pulau Derawan dan Maratua, yang tentunya memiliki ciri khas tersendiri sehingga membuat wisatawan tertarik.

“Memang sampai saat ini belum semua penenun mengetahui bagaimana cara membuat desain dan pewarnaan, karena ada beberapa dari mereka yang masih baru belajar mengenal tenun dan bagaimana dasar membuat hasil tenun. Tetapi, tidak menutup kemungkinan nantinya hasil tenun yang dibuat bisa dijadikan salah satu oleh-oleh khas Berau, yang ditawarkan kepada para wisatawan, karena biasanya juga wisatawan asing kan menyukai motif-motif unik khas suatu daerah atau negara,” tutupnya.(bangun banua)

 

Post a comment

Book your tickets