Diharapkan Bisa Beri Solusi Tunjang Kepariwisataan

ANGIN segar bagi perkembangan pariwisata Berau. Gelaran perdana Rapat koordinasi (Rakor) dukungan infrastruktur dalam pengembangan kawasan pariwisata di provinsi Kaltim gelaran Dispar Kaltim pada Selasa (26/3) di ballroom hotel Palmy Jalan SA Maulana. Tentu bisa menjadi salah satu solusi permasalahan selama ini di Berau seperti akses jalan hingga ketersediaan listrik dan komunikasi.

Hadirnya Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi dan Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Destinasi Regional II Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI Reza Fahlevi, digunakan Bupati Berau untuk memaparkan segala permasalahan yang ada di Berau khususnya di daerah wisata.

“Dari Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang saya ikuti di 13 kecamatan, dan dari pendataan permasalahan yang ada masih seputar kebutuhan dasar termasuk infrastruktur. Sarana air bersih juga masih menjadi kendala. Bayangkan kalau di tempat wisata itu tidak ada air bersih pastinya sangat mengganggu wisatawan. Dan juga untuk listrik, menjadi kebutuhan yang sangat fatal apalagi di daerah wisata. Belum lagi untuk akses jalan rusak yang menuju tempat wisata,” ungkap Bupati Berau Muharram ketika menyambut kedatangan Wagub Kaltim Hadi Mulyadi dalam Rakor.

Dijelaskan Muharram, sebenarnya dari provinsi sudah melakukan perbaikan bahkan berulang kali. Hanya saja, kondisi jalan rusak yang dikeluhkan masyarakat memang mengalami percepatan kerusakan dari usia jalan yang diharapkan. Ini karena banyaknya beban yang melebihi batas melintas di jalan tersebut.

“Sehingganya, ketika Berau menjadi salah satu destinasi wisata unggulan memang harus memiliki masterplan yang berkelanjutan jangka panjang. Misalnya potensi Maratua yang bisa dikembangkan seperti Republik Seychelles (sebuah negara kepulauan yang mencakup sebuah kepulauan dari 115 pulau di Samudera Hindia di Samudra Hindia, sekitar 1.600 km sebelah timur daratan Afrika, dan sebelah timur laut Madagaskar) yang saya kunjungi beberapa waktu lalu, ternyata untuk menghalau ombak tinggi dibuatlah penghalang dari batuan karang yang ditumpuk dan dibuat jalan dari dermaga masuk pulau, agar kapal-kapal wisata bisa bersandar,” jelasnya.

Wagub Kaltim juga mengatakan jika melihat perkembangan yang berjalan di Berau, tidak menutup kemungkinan ke depannya akan bisa menjadi provinsi juga. Untuk itu, potensi wisata yang ada dimana Berau ada di posisi 5 dari 10 daerah wisata di Kaltim, harus menjadi prioritas dukungan infrastruktur.

“Ini juga karena semua negara menjadikan pariwisata sebagai tombak utama kemajuan karena jika pariwisata maju maka multiflier effectnya akan terlihat jelas di semua bidang, misalnya untuk perekonomian yakni di kulinernya. Dan pariwisata juga memiliki program serius karena memiliki data yang jelas, yaitu sebagai penyumbang devisa paling besar selama 5 tahun berturut-turut. Untuk itu, saya berpesan agar daerah sekitar wisata juga dijaga baik seperti hutan yang ada di sekitar Labuan Cermin agar tetap menjadi salah satu danau terindah di dunia,” katanya.

Sedangkan untuk infrastruktur jalan, dikatakan Hadi pihak provinsi juga memiliki keterbatasan tetapi akan diusahakan hingga ke pusat. Dan harapannya di APBD perubahan akan muncul DAK pariwisata ke Berau di tahun 2019 ini.  (Bangun Banua)

 

 

Expected To Be Able To Provide Tourism Support Solutions

Fresh wind for the development of Berau tourism. The first round of infrastructure support coordination meetings in the development of tourism areas in the East Kalimantan province of Dispar Kaltim on Tuesday (26/3) in the ballroom of Palmy hotel, Jalan SA Maulana. Of course it can be one of the solutions to problems so far in Berau such as road access to electricity and communication availability.

The presence of Deputy Governor of East Kalimantan Hadi Mulyadi and Assistant Deputy of Regional Destination Development II of the Indonesian Ministry of Tourism (Kemenpar) Reza Fahlevi, was used by the Berau Regent to explain all the problems in Berau, especially in tourist areas.

“From the Development Plan Deliberations (Musrenbang) that I participated in 13 sub-districts, and from the data collection, the problems were still around basic needs, including infrastructure. Clean water facilities are still an obstacle. Imagine if there is no clean water in the tourist spot, of course it is very disturbing for tourists. And also for electricity, a very fatal requirement especially in tourist areas. Not to mention the damaged road access to tourist attractions, “said Regent Berau Muharram when welcoming the arrival of East Kalimantan Deputy Governor Hadi Mulyadi in the Coordination Meeting.

Muharram explained, actually from the provinces they have made repairs even repeatedly. It’s just that the damaged road conditions that the community complained about did experience an acceleration of damage from the expected road age. This is because the amount of load that exceeds the limit crosses the road.

“So, when Berau becomes one of the leading tourist destinations, it must have a long-term sustainable master plan. For example the Maratua potential that could be developed such as the Republic of Seychelles (an island nation that includes an archipelago of 115 islands in the Indian Ocean in the Indian Ocean, about 1,600 km east of mainland Africa, and northeast of Madagascar) that I visited some time ago, apparently blocking the high waves is made a barrier from coral rock that is stacked and made a way from the pier into the island, so that tourist ships can lean on,” he explained.

The Deputy Governor of East Kalimantan also said that if you look at the developments that are running in Berau, it is possible to become a province in the future. For this reason, the existing tourism potential where Berau is in position 5 out of 10 tourist areas in East Kalimantan, must be a priority for infrastructure support.

“This is also because all countries make tourism the main spear of progress because if tourism advances, the multiflier effect will be clearly seen in all fields, for example in the economy, likes culinary. And tourism also has a serious program because it has clear data, namely as the largest foreign exchange contributor for 5 consecutive years. For that, I advise that the surrounding area of tourism is also well maintained as the forest around Labuan Cermin to remain one of the most beautiful lakes in the world,” he said.

And for the road infrastructure, said Hadi, the provincial government also has limitations, but it will be endeavored to the center. And the hope is that in the APBD the changes in tourism DAK will appear in Berau in 2019. (Bangun Banua)

Post a comment

Book your tickets