Hotel Bintang Harus Penuhi 25 Kriteria Mutlak

GUNA  meningkatkan standar dan kualitas hotel di Kabupaten Berau, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menggelar Bimbingan Teknis Standar Usaha Hotel. Bertempat di Makmur Berau Hotel and Convention Center Jalan Teuku Umar, Kamis (25/10/2018), beberapa pengelola hotel baik di Kota Tanjung Redeb maupun pemilik resort yang ada di daerah wisata, diberi paparan bagaimana dan apa saja kriteria yang harus dimiliki agar dapat disebut sebagai hotel bintang.

Dalam peraturan menteri (Permen) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel, sudah tertera jelas bahwasannya persyaratan dasar adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh suatu usaha hotel baik yang berupa sertifikat kelaikan yang dikeluarkan oleh instansi teknis pemerintah (dalam hal ini adalah Dinas Perijinan melalui Dinas Pariwisata), serta tanda daftar usaha pariwisata bidang usaha penyediaan akomodasi jenis usaha hotel.

Mengacu pada Permen tersebutlah, sehingga setiap usaha hotel yang ada tentunya harus memenuhi syarat-syarat yang ada agar bisa memiliki standar usaha hotel, dimana untuk kriteria mutlaknyanya sendiri dilihat dari 3aspek yakni produk, pelayanan dan pengelolaan. Dari ketiga kriteria tersebut nantinya akan ada lagi beberapa poin yang menjadi penilaian suatu hotel itu sudah memenuhi standar hotel bintang ataukah hotel non bintang, atau bahkan tidak termasuk keduanya.

Dijelaskan Mohammad Zulkifli, General Secretary The Association of Indonesian Hotel and Restaurant of East Kalimantan, yang juga sebagai auditor pariwisata bidang usaha penyediaan akomodasi, ada 25 kriteria yang wajib dipenuhi oleh suatu usaha hotel agar dapat disebut hotel bintang, dan untuk mencapai standar hotel non bintang pun harus memenuhi 16 kriteria yang ada.

Kriteria tersebut diantaranya adalah, dari segi produk tersedianya suatu bangunan hotel, papan nama hotel, ruang makan minum dengan sirkulasi udara dan pencahayaan, kamar tidur dengan perlengkapannya termasuk kamar mandi, dan dapur dengan perlengkapannya. Sedangkan dari segi pelayanan diantaranya harus tersedianya pelayanan pemesanan kamar, pendaftaran, penerimaan, dan pembayaran, pelayanan kesehatan dan pelayanan keamanan. Terakhir, dari segi pengelolaan harus memiliki struktur organisasi, dan adanya sertifikasi kompetensi karyawan.

“Contohnya untuk dapur, tata letak tempat masaknya harus memiliki tinggi standar 90 centimeter. Dan untuk peletakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jarak dari lantai minimal tingginya 60 centimeter dan harus ditaruh dalam kaca. Sedangkan untuk jarak antara 1 APAR dengan APAR lainnya minimal 30 meter. Nah hal-hal seperti itulah yang rata-rata belum diketahui para pengelola hotel, yang ternyata justru menjadi salahs atu penilaian guna mendapatkan standar hotel bintang,” terangnya.

Dan untuk penggolongan kelas hotel dinilai berdasarkan 3 aspek diatas yang terdiri dari sub unsur. Untuk hotel bintang 1 ada 61 unsur yang harus dipenuhi dengan perolehan total nilai penilaian 208-292, hotel bintang 2 ada 70 unsur dengan total penilaian 312-500, hotel bintang 3 ada 145 unsur dengan total nilai 520-708, hotel bintang 4 ada 176 unsur dengan total nilai 728-916, dan hotel bintang 5 ada 208 unsur dengan total nilai diatas 936. Dan untuk penilaian hotel non bintang dilakukan dengan menentukan batas nilai terendah 152.

“Sebenarnya, untuk mendapat titel hotel bintang 4 atau 5 bisa dengan menyediakan ballroom yang mampu menampung 4ribu hingga 5ribu orang, atau penyediaan tematik restoran dengan dapur masing-masing, seperti di satu hotel memiliki restoran khusus makanan Cina atau Jepang, ya dapur dan peralatan masaknya pun harus sendiri-sendiri, tidak boleh dicampur. Dan apabila kalau setelah penilaian pun hotel tersebut tidak mencukupi 16 unsur dan nilai akhir di bawah standar nilai terendah, maka pemebrian namanya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten. Misalnya seperti yang banyak digunakan di perkotaan yaitu kostel, hostel, yang dikeluarkan oleh Dinas Perijinan setempat atas nama Bupati,” tambahnya.

Kepala Disbudpar Berau, Mappasikra Mappaseleng, ketika ditemui di bimtek tersebut juga mengungkapkan bahwasannya untuk standar hotel ini memang sangat diperlukan. Pasalnya, tingkat hunian hotel yang cukup tinggi di Kabupaten Berau saat ini membutuhkan kualitas pelayanan dan hotel yang mumpuni.

“Data update terakhir yang saya dapat yakni 2 minggu lalu, itu tingkay hunian hotel masih 80 persen, dimana waktu akhir pekan adalah puncak ramainya pemesanan kamar hotel maupun resort. Nilai ini tidak hanya berlaku di Tanjung Redeb saja, tetapi juga di daerah wisata seperti Derawan dan Maratua. Jadi, dengan adanya perkembangan yang terus meningkat seperti ini, tentunya standarisasi pelayanannya juga harus ikut diupdate,” ungkapnya.

Dikatakan Sikra, meskipun setiap hotel memiliki standar masing-masing, memang tetap diperlukan standar yang disyaratkan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Ini juga bertujuan selain menjamin kualitas produk, pelayanan dan pengelolaan dalam rangka memenuhi kepuasan tamu, juga memberikan perlindungan kepada tamu, pengusaha hotel, tenaga kerja, dan masyarakat, baik untuk keselamatan, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan kemudahan pelestarian lingkungan hidup.

“Selain itu juga diharapkan SDM atau pekerja di hotel itu juga terus dikembangkan. Walaupun pelaksanaannya hanya sehari, mudahan masing-masing bisa membawa bekal untuk membangun SDM internal hotelnya, dan juga bisa saling sharing bagaimana mengupdate pengelolaan hotel,” pungkasnya.

Human Resources Hotel Bumi Segah yang terletak di Jalan Pulau Sambit Tanjung Redeb, Reynaldi Praditha yang juga ditemui dalam bimtek mengatakan bahwa dirinya sangat senang dengan adanya bimtek standar hotel ini. Karena, dengan begini akan diketahui apa saja yang perlu dipenuhi agar mencapai standar hotel yang semestinya.

“Saya jadi mengetahui apa-apa saja persyaratannya untuk mendapatkan titel bintang, dan ini akan diteruskan ke pihak pengelola hotel untuk diaplikasikan sehingga pada saat penilaian nanti semuanya sudah memenuhi standar,” terangnya.

Senada, Rita Wati, perwakilan dari Exclusive Hotel yang terletak di Jalan AKB Sanipah II juga mengungkapkan keantusiasannya mengikuti bimtek kali ini. Karena dengan semua kriteria yang harus dipenuhi itu tentu akan membuat motivasi tersendiri bagi pengelola hotel agar dapat lebih meningkatkan kualitas dan pelayanannya agar dapat memenuhi standar dan pastinya bisa mendukung pelayanan bagi wisatawan yang akan menggunakan jasa menginap, baik di dalam Kota Tanjung Redeb maupun di daerah objek wisata.  (bangun banua)

Post a comment

Book your tickets