Kembangkan Wisata Inovasi dengan Konsep Spesial Interest

BERBAGAI cara dilakukan untuk  mengembangkan pariwisata di Kabupaten Berau. Bahkan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau juga sudah menjalankan konsep pengembangan wisata yang sudah dituangkan dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripda) Kabupaten Berau yang jangka waktunya mulai dari 2016 hingga 2031.

Jadi, selama jangka waktu 15 tahun tersebut, Berau menggunakan konsep pengembangan wisata inovasi pariwisata 1 kampung dengan 1 produk wisata unggulan. Sehingga dengan adanya konsep ini nantinya Berau akan memiliki 100 wisata unggulan yang bisa dikunjungi oleh wisatawan.

“Berau ada 13 kecamatan dimana dari semua kecamatan sudah ditetapkan 10 destinasi wisata yang terdiri dari 172 daya tarik, yang dibagi menjadi 4 Kawasan Pembangunan Pariwisata (KPP). Dimana pembangunannya sekarang mengacu ke semua kepentingan, jadi multi stakeholder dirangkul semua, yang mana ada 3 elemen penting yang harus berkolaborasi di pengembangan pariwisata ini yakni masyarakat yang ada di tapak pengembangan atau destinasi wisata, pengusaha industri wisata, dan pemerintah sebagai fasilitator dan regulator yang kesemuanya harus bersinergi dengan baik,” jelas Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disbudpar Berau, Hotlan Silalahi Se, M.Sc.

Sedangkan untuk konsep pengembangan yang sedang berjalan saat ini yaitu 1 kampung 1 produk wisata unggulan, dikatakan Hotlan bertujuan untuk menambah lama panjang tinggal wisatawan di Kabupaten Berau. Dicontohkannya, Kampung Tembudan yang sudah jadi kampung wisata, mengembangkan danau biru, sehingga danau inilah yang menjadi ikonnya. Contoh lain adalah wisata baru di Teluk Semanting, yang jadi produk unggulan adalah Mangrove dan Bekantannya yang akan menjadi ikon, sehingga pengunjung yang datang akan mendapat ilmu tentang bagaimana cara bekantan hidup di alam liar. Dan contoh lainnya adalah Kampung Budaya Benabaru, dimana ketika orang berkunjung untuk melihat budaya orang Dayak.

“Ya kan dengan adanya 1 produk wisata unggulan di setiap kampung, maka nanti akan ada 100 wisata unggulan yang menawarkan objek wisata masing-masing, sehingga wisatawan yang datang ke Berau akan menetap lebih lama untuk mengunjungi semua objek wisata yang ada. Tetapi, selain mengembangkan produk wisata unggulan, wisata lainnya juga dikembangkan guna menjadi pendukung atraksi wisata yang ada,” lanjutnya.

Dan ini akan disegmentasikan menjadi 2 yaitu mana yang menjadi tujuan wisata spesial interest dan mana yang menjadi tujuan wisata amaze tourism. Ini dilakukan untuk mengetahui berapa daya dukung suatu daya tarik dan berapa daya tampung wisatawannya.

“Nah ini juga dilakukan karena kalau nanti konsepnya ekowisata (kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan), maka kita harus menekan kunjungan sekecil mungkin untuk mencegah terjadinya kerusakan alam. Untuk itu yang dikembangkan adalah bagaimana wisatawan yang datang bisa lama tinggalnya di Berau, sehingga inilah yang dinamakan spesial interest, apa yang membuat pengunjung tertarik mengunjungi wisata tersebut lah yang harus dikembangkan,” ungkapnya.

Keunggulan dari spesial interest ini adalah tidak dibutuhkan banyak wisatawan, karena yang menjadi tolok ukurnya adalah berapa lama dia tinggal. Sehingga menimbulkan multiplayer effect karena kalau orang lama tinggal tentu dia akan membutuhkan akomodasi juga kemana-mana, memanfaatkan jasa masyarakat, dan pastinya biaya pengeluarannya juga akan semakin besar untuk kebutuhan sehari-hari. Dari situ jugalah maka pemasukan yang diterima juga akan semakin besar.

Kalau segmentasinya amaze tourism, misalnya atraksi banyak disitu dan dapat dinikmati 1-2 hari karena itu bersifat wisata buatan, maka pendapatan yang diterima juga bersifat tempor atau hanya diperoleh dalam waktu singkat saja. (bangun banua)

Post a comment

Book your tickets