Lomba Ancur Paddas dan Puncak Rasul Diwarnai HUT Berau

Tanjung Redeb –

Meskipun puncak hari jadi ke-66 Kabupaten Berau dan hari jadi ke-209 Kota Tanjung Redeb jatuh pada 15 September mendatang, serangkaian kegiatan sudah dipersiapkan. Mulai dari acara puncak yakni upacara HUT Berau hingga beragam jenis perlombaan yang diadakan pada 17 September bertempat di gedung Graha Pemuda Berau gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau juga dipersiapkan untuk memeriahkan HUT Berau tahun ini.

Dikatakan Kepala Disbudpar Berau, Masrani untuk menambah kemeriahan hari jadi Berau dan Kota Tanjung Redeb, Disbudpar juga akan menggelar beberapa lomba seperti membuat Ancur Paddas dan Puncak Rasul, yang merupakan tradisi khas masyarakat Bumi Batiwakkal.

Kuliner khas Berau adalah Ancur Paddas, dilihat dari namanya yang mempunyai arti Bubur Pedas itu tentu rasa bubur satu ini terasa sedikit pedas. Di Kampung Sei Bebanir Bangun, bubur ini biasa nya di sajikan saat ada upacara adat atau kegiatan selamatan. Ancur Paddas ini kadang di sajikan saat perayaan Bapallas Bidan atau naik ayunan bagi warga yang baru melahirkan.

Ada satu lagi yang kadang tidak terlalu terekspos oleh media, selain Ancur Paddas ada pula Air Paddas. Air yang dibuat dari rebusan jahe ini biasanya diminum oleh ibu yang baru saja melahirkan, dan konon katanya mampu mengembalikan bentuk perut ibu setelah melahirkan, selain itu juga bisa membuat ibu tersebut tetap sehat dan kuat.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bubur pedas ini juga sangat sederhana. Dibutuhkan beras, udang kering kecil, sayuran (daun katuk), garam, bawang merah, bawang putih, cabai, serai, ketumbar, merica, kunyit, lengkuas, jahe dan kelapa. Dan cara membuatnya pun mudah dimulai dengan menyangrai beras, ketumbar dan merica secara terpisah. Kemudian haluskan semua bumbu yang ada, setelah itu campur beras dan bumbu yang telah dihaluskan dalam wajan untuk kemudian dimasak sampai lumat menggunakan santan. Sebelum diangkat, masukkan udang kering, tambahkan garam secukupnya dan sayur mayur. Jika sudah, angkat dan hidangkan dalam keadaan masih panas.

Tidak ketinggalan, setiap peringatan Hari Jadi “Bumi Batiwakkal” Kabupaten Berau Kalimantan Timur, selalu ada acara pemotongan puncak rasul. Puncak rasul telah diakui sejak zaman kerajaan di Kabupaten Berau, konon pada zaman kerajaan kue berbahan dasar ketan ini merupakan menu wajib berbagai acara syukuran dan keagamaan.

Jenis kuliner ini berbahan dasar nasi ketan yang dibentuk kerucut menjulang ke atas. Namun berbeda dengan nasi tumpeng, puncak rasul memiliki berbagai warna yangmasing masing memiliki filosofi tersendiri. Di atas puncak rasul, terdapat sebutir telur ayam kampung yang dimaknai sebagai jabatan manusia tertinggi yakni Nabi Muhammad SAW. Itu sebabnya jika usai upacara syukuran telur ini menjadi rebutan masyarakat dengan harapan bisa mengikuti keteladanan Nabi Muhammad SAW, baik urusan beribadah, bermasyarakat maupun berkeluarga.

Sementara warna kuning kue Puncak Rasul diartikan sebagai simbol keluarga kerajaan Berau. Dan untuk warna merah disimbolkan para pengabdi kerajaan seperti menteri dan pengawal kerajaan yang siap mengayomi masyarakat. Sedangkan warna putih disimbolkan kerukunan dalam masyarakat di lingkungan kerajaan.

Selain itu nasi ketan menjadi bahan pembuatan puncak rasul, disimbolkan sebagai perekat seluruh filosofi kehidupan tersebut, agar warna rukun dalam bermasyarakat dan berkeluarga, juga taat dalam beribadah seperti halnya Nabi Muhammad SAW. (bangun banua)

 

Paddas Ancesture Race and Apostle Peak at the Berau Anniversary

Although the peak of the 66th anniversary of Berau Regency and the 209th anniversary of Tanjung Redeb City fall on September 15, a series of activities have been prepared. Starting from the top event, the Berau Anniversary ceremony to various types of competitions held on September 17th at the Berau Graha Youth building, the Berau Culture and Tourism Office (Disbudpar) was also prepared to enliven the Berau anniversary this year.

The Head of the Berau Disbudpar, Masrani said to add to the excitement of the anniversary of Berau and the City of Tanjung Redeb, the Disbudpar will also hold several competitions such as creating Ancur Paddas and Puncak Rasul, which are typical traditions of the people of Bumi Batiwakkal.

Berau’s distinctive culinary is Ancur Paddas, judging by its name which means Spicy Porridge, of course the taste of this porridge feels a bit spicy. In Sei Bebanir Bangun Village, this porridge is usually served when there are traditional ceremonies or salvation activities. Ancur Paddas is sometimes presented during Bapallas Midwife celebrations or riding a swing for newly born residents.

There is another one that is sometimes not too exposed by the media, besides Ancur Paddas there is also Air Paddas. Water made from ginger stew is usually drunk by mothers who have just given birth, and it is said to be able to restore the shape of the mother’s abdomen after giving birth, but it also can make the mother stay healthy and strong.

The ingredients needed to make spicy porridge are also very simple. It takes rice, small dried shrimp, vegetables (katuk leaves), salt, onion, garlic, chili, lemongrass, coriander, pepper, turmeric, galangal, ginger and coconut. And how to make it is easy to start by roasting rice, coriander and pepper separately. Then puree all the spices available, after that mix the rice and spices that have been mashed in a frying pan and then cooked until blended using coconut milk. Before lifting, add dried shrimp, add salt to taste and vegetables. If so, lift and serve while still hot.

Do not miss, every anniversary of the “Batiwakkal Earth” Berau District of East Kalimantan, there is always a peak apostolic cutting event. The apostle’s peak has been recognized since the age of the kingdom in Berau Regency.

This type of culinary is made from sticky rice formed by cones soaring upwards. But unlike rice cone, apostle peak has a variety of colors, each of which has its own philosophy. On top of the apostle, there is a native chicken egg which is interpreted as the highest human office, the Prophet Muhammad. That is why if after the egg-thanksgiving ceremony becomes a struggle for the community in the hope of being able to follow the example of the Prophet Muhammad, both in matters of worship, community and family.

While the yellow color of the Apostle Peak cake is interpreted as a symbol of the Berau royal family. And for the red color symbolized the servants of the kingdom such as ministers and royal guards who are ready to protect the people. While the white color symbolized harmony in the community in the kingdom.

In addition, sticky rice is the material for making apostle peaks, symbolized as the glue of the entire philosophy of life, so that the colors get along well in society and families, as well as being obedient in worship like the Prophet Muhammad. (bangun banua)

Post a comment

Book your tickets