Lomba Perahu Panjang HUT Ke 74 RI, Pelestarian Budaya Berau

Tanjung Redeb –

Lomba perahu panjang tradisional yang menjadi kalender  tahunan Kabupaten Berau tahun ini pun akan kembali digelar pada Jumat (23/8). Kali ini lomba gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau ini adalah dalam rangka memperingati HUT ke74 RI. Tetapi, ada makna tersendiri dibalik perlombaan tahunan ini loh.

Lomba perahu panjang ini disaksikan ribuan warga yang memenuhi sepanjang Tepian Gunung Tabur dan tepian di sepanjang sisi Tanjung Redeb. Lomba perahu panjang yang menjadi tradisi turun temurun terus dipertahankan sebagai bagian pelestarian budaya dan membangun kebersamaan masyarakat Kabupaten Berau.

Ini juga merupakan salah satu cara untuk memajukan pariwisata di Kabupaten Berau. Selain itu juga sebagai hiburan masyarakat karena antusias masyarakat untuk menyaksikan lomba ini sangat tinggi. Apalagi karena sebagai daerah pariwisata, yang ditonjolkan haruslah kegiatan adat dan tradisionalnya. Ini juga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan tak hanya lokal tetapi juga wisatawan asing.

Lomba perahu panjang ini bisa juga dimaknai sebagai perwujudan semangat kerjasama dan gotong royong masyarakat dalam pembangunan. Sebab, para peserta lomba perahu ini harus bekerjasama dan kompak agar perahu bisa melaju kencang. Begitu juga dengan pembangunan, dengan kerjasama seluruh lapisan masyarakat, maka pembangunan di Berau bisa terwujud dan maju pesat.

Bagaimana perahu tersebut bisa melaju ke depan dengan seimbang tergantung kerjasama para pendayungnya. Mereka harus mendayung searah agar perahu tetap maju ke depan. Begitu pula dengan kehidupan bermasyarakat di Berau, digambarkan dengan perahu panjang yang memiliki makna kebersamaan, pantang menyerah serta membangun. Kehidupan bermasyarakat tersebut yang menjadi cermin dari Kabupaten Berau.(bangun banua)

 

Long Boat Competition, Preservation of Berau culture

The traditional long boat race, which became the annual calendar of Berau Regency, will be held again on Friday (8/23). This time the Berau Culture and Tourism Service (Disbudpar) competition was held to commemorate the 74th Indonesian Independence Day. However, there is a special meaning behind this annual race.

This long boat race was witnessed by thousands of residents who met along the edge of Mount Tabur and ledges along the side of Tanjung Redeb. The long boat race which has become a tradition for generations has continued to be maintained as part of cultural preservation and community togetherness in the District of Berau.

This is also one way to advance tourism in Berau District. In addition, it is also an entertainment for the community because the enthusiasm of the people to watch this competition is very high. Especially because as a tourist area, the highlighted must be traditional and traditional activities. This can also be an attraction for tourists not only local but also foreign tourists.

This long boat race can also be interpreted as an embodiment of the spirit of cooperation and community cooperation in development. Because, the participants of this boat race must work together and be compact so that the boat can go fast. Likewise with development, with the cooperation of all levels of society, development in Berau can be realized and progress rapidly.

How the boat can go forward in a balanced way depends on the cooperation of the rowers. They must row in the same direction so that the boat continues forward. Likewise with social life in Berau, described by a long boat that has the meaning of togetherness, never give up and build. The social life which is a mirror of Berau Regency. (bangun banua)

Post a comment

Book your tickets