Lomba Perahu Panjang, Tradisi dan Promosi Wisata

Tanjung Redeb –

Event tahunan lomba perahu panjang yanag digelar Jumat (23/8) lalu, masuk kalender pariwisata Kabupaten Berau, sebuah tradisi tua yang saat ini masih tetap awet terpelihara sebagai bagian dari kebudayaan daerah dengan sebutan “ Kota Sanggam”.

Perahu – perahu tradisional ini berasal dari beberapa kampung, corak warna dan ukirannya pun memiliki makna tersendiri, terutama di bagian depan perahu ada kepala naga dengan berbagai bentuk yang berbeda. Rata-rata pendayung berjumlah sekitar 30 orang ditambah satu pawang yang tugasnya memberikan semangat bagi pendayung di perahu tersebut.

Pada babak penyisihan 4 hingga 5 perahu mulai beradu cepat untuk mencapai garis finish, yang jaraknya sekitar 1 kilo lebih. Sebuah kekompakan dan semangat para pendayung pun semakin berkobar untuk sampai di line yang ditentukan panitia event yang menari perhatian wisatawan tersebut.

Karena itu Bupati Muharram memberikan apresiasi kepada Disbudpar, yang telah mengemas kegiatan ini dengan lancar. Menurutnya, pemerintah akan memberikan dukungan khususnya dalam menjaga tradisi yang saat ini masih terlaksana dengan baik.

Bupati Muharram juga menegaskan, kegiatan lomba semacam ini jangan hanya dapat digelar pada waktu-waktu tertentu saja, akan tetapi perlu rutin digelar, paling tidak 3 bulan sekali. “Event ini juga merupakan cara untuk memajukan pariwisata daerah dan hiburan ditengah masyarakat, karena itu kalau bisa digelar per tiga bulan sekali. Agar jumlah wisatawan semakin bertambah,” pintanya.

Mengingat saat ini Pemkab Berau sedang gencar – gencarnya mempromosikan kekayaan sektor wisata, mengingat sektor wisata dalam jangka panjang sangat menjanjikan untuk menyumbang PAD, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Karena tidak mungkin kita terus bergantung dengan batubara, sumber daya alam yang tak dapat diperbarui, kecuali menunggu sampai ratusan tahun, atau bahkan harus menunggu ribuan tahun,”paparnya.

Lomba perahu tradisional ini berhasil dimenangkan oleh perahu Naga Beribit dari Kampung Sukan, kemudian untuk juara kedua Naga Uleng dari Kampung Merancang, juara ketiga Naga Barintak Kecamatan Gunung Tabur dan juara ke empat Naga Ilanun dari Sambaliung.

Secara khusus Bupati Muharram menyerahkan trophy dan uang pembinaan kepada masing-masing pemenang. Untuk juara satu menerima uang pembinaan sebesar Rp 9 Juta, Kedua 7,5 juta, Ketiga 6,2 juta dan Juara Keempat sebesar 5,5 juta. (bangun banua)

 

Regent Requests Boat Display Competition Held Every Three Months

The annual long boat race event that was held last Friday (23/8), entered the tourism calendar of Berau Regency, an old tradition that is still preserved as part of regional culture as “Kota Sanggam”.

These traditional boats come from several villages, their color and carvings have their own meaning, especially in the front of the boat there are dragon heads with different shapes. On average the rowers number about 30 people plus one handler whose job is to encourage the rowers on the boat.

In the preliminary rounds of 4 to 5 the boats start to compete quickly to reach the finish line, which is about 1 kilometer more. A cohesiveness and enthusiasm of the rowers even more to flare up to the line determined by the event committee who danced the attention of tourists.

Because of that the Regent Muharram gave his appreciation to Disbudpar, who had packed this activity smoothly. According to him, the government will provide support especially in maintaining traditions that are currently still well implemented.

Regent Muharram also emphasized that this kind of competition should not only be held at certain times, but would need to be regularly held, at least once every 3 months. “This event is also a way to advance regional tourism and entertainment in the community, so if it can be held every three months. So that the number of tourists increases, “he demanded.

Bearing in mind that the Berau Regency Government is currently aggressively promoting the wealth of the tourism sector, given the tourism sector in the long term is very promising to contribute to PAD, and increase public income.

“Because it is impossible for us to continue to depend on coal, natural resources cannot be renewed, except to wait hundreds of years, or even have to wait thousands of years,” he explained.

“Because it is impossible for us to continue to depend on coal, natural resources cannot be renewed, except to wait hundreds of years, or even have to wait thousands of years,” he explained.

Specifically, the Regent of Muharram handed over trophies and coaching money to each winner. For the first winner receives coaching money in the amount of Rp. 9 million, the second is 7.5 million, the third is 6.2 million and the fourth winner is 5.5 million. (bangun banua)

Post a comment

Book your tickets