Melihat Pesta Adat Lesung Osap Dayak Kenyah

Dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Kenyah, berbagai macam tradisi dan budaya hingga saat ini masih terus dilestarikan termasuk tradisi adat dan kebudayaan pasca panen raya. Seperti di Kampung Bena Baru, Kecamatan Sambaliung yang digelar Kamis (2/5) misalnya. Usai melaksanakan panen raya, sebagai wujud memanjatkan syukur kepada sang Maha Pencipta, masyarakat di kampung yang dijuluki Kampung Budaya tersebut, setiap tahunnya rutin menggelar sebuah acara kebudayaan yang dinamakan Festival Lesung Osap.

Menurut masyarakat lokal di kampung tersebut, perayaan seperti ini memang dilakukan setiap tahun. Hal itu merupakan bentuk terima kasih mereka kepada Tuhan atas rejeki yang dilimpahkan, serta mengharapkan keberkahan atas rejeki yang mereka dapatkan tersebut. Panen raya tersebut merupakan panen atas padi yang berbulan-bulan mereka tanam dengan peluh keringat demi menjadi nasi untuk menghidupi seluruh anggota keluarga. Maka tak heran dalam perayaan yang sebelumnya dikenal dengan pesta syukur panen tersebut, ditandai dengan tarian masyarakat suku Dayak, yang sarat akan makna atas proses menanam padi hingga menjadikannya makanan yang siap disajikan, seperti anye ontat (makanan khas suku Dayak, yang terbuat dari tepung beras ketan. Biasa disajikan pada pesta adat lainnya).

Dalam rangkaiannya, ada beberapa tarian yang melambangkan proses demi proses hingga panen raya tersebut. Pada tarian Bangen Tawai digambarkan betapa sukacita dirasakan masyarakat usai sukses mengerjakan ladang mereka. Rasa senang tersebut merupakan ungkapan paling dalam yang dirasakan masyarakat suku Dayak atas kesempatan yang diberikan Tuhan kepada mereka untuk dapat berkumpul bersama keluarga dalam mempersiapkan ladang. Juga rasa syukur atas kepemimpinan Tuhan yang mereka rasakan.

Usai Bangen Tawai, tarian Ponan Penega, menceritakan bagaimana gagah beraninya dua orang pemuda dalam memperebutkan seorang wanita cantik jelita, dan yang menang akan menikahi wanita tersebut. Tarian ini juga menggambarkan bagaimana perjuangan seorang lelaki dalam menggapai sesuatu yang diinginkannya.

Tarian Nglaem, yang juga dibawakan dalam festival tersebut, berhasil menyita perhatian pengunjung. Sebab dalam tarian tersebut, diceritakan bagaimana keperkasaan dan keberanian para lelaki dalam menghadapi berbagai gangguan yang menghadang di kehidupan dunia. Pada tarian Oyan Oma, diceritakan bagaimana proses detil dalam pembuatan ladang dari menebas, menunggal, menanam, hingga menuai atau memetik.

Barulah Tarian Lesung Osap sebagai penutup dalam perayaan tersebut. Tarian Lesung Osap mengungkapkan proses membuat suatu bahan makanan tradisional Dayak, Anye Ontat. Untuk memperoleh makanan tersebut, dibutuhkan kerjasama yang dituangkan dalam suatu pekerjaan menumbuk di lesung osap atau lesung panjang dengan penuh kegembiraan, kebersamaan, dan penuh kegotongroyongan untuk mengubah beras menjadi tepung, sebagai bahan dasar Anye Ontat.

Keunikan perayaan pesta adat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun asing, yang berdatangan untuk melihat langsung prosesi syukuran yang juga disemarakkan dengan pentas seni tersebut. Bupati Berau, H Muharram S.Pd MM dan sejumlah pejabat di jajaran Pemkab Berau, hadir dan berbaur bersama masyarakat. Berbagai pentas seni yang dibawakan para orangtua hingga anak-anak usia remaja yang sudah terlatih. Selain itu pameran produk hasil kerajinan tangan masyarakat Bena Baru juga ditampilkan di arena balai adat kampung seperti gelang maupun cinderamata yang juga banyak dihasilkan dari kampung tersebut.

Bupati Muharram, mengaku senang dan bahagia dengan kemeriahan Festival Lesung Osap yang telah dipersiapkan sedemikian oleh masyarakat dengan menghadirkan banyak pengunjung. Bahkan ke depan, Muharram memberikan dukungan agar pesta adat ini digelar lebih meriah dan lebih baik lagi.

“Pesta adat ini tidak hanya menjalankan tradisi turun-temurun, namun juga sangat bagus menjadi daya tarik pariwisata daerah kita,” ungkapnya.

Untuk itu, Bupati Muharram mengajak masyarakat Kampung Bena Baru terus berbenah menjadi kampung tujuan pariwisata. Tidak hanya menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah, namun menjadi dan menciptakan lingkungan kampung yang nyaman harus diwujudkan. Mulai dari membuat taman-taman di setiap lingkungan rumah warga maupun penataan sanitasi yang baik. Dengan keindahan kampung ini, dikatakannya menjadi daya tarik dan kenangan bagi wisatawan yang datang. Sehingga mereka yang datang akan membawa cerita yang baik untuk akhirnya mendatangkan wisatawan lainnya.

Selain itu, dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat Bena Baru diharapkannya dapat terus ditingkatkan sehingga memiliki produk unggulan yang dengan ciri khas tersendiri bagi wisatawan. Pemkab Berau dengan peran dewan kerajinan nasional daerah (Dekranasda) disampaikannya, akan memberikan dukungan penuh dalam pengembangan keterampilan untuk menghasilkan produk unggulan.(Bangun Banua)

Seeing the Indigenous Party of Lesung Osap Dayak Kenyah

In the life of the Dayak Kenyah tribe, various kinds of traditions and cultures are still preserved to date including traditional traditions and post-harvest culture. Like in Bena Baru Village, Sambaliung District which was held on Thursday (2/5) for example. After carrying out the harvest, as an expression of gratitude to the Creator, the people in the village, dubbed the Cultural Village, regularly hold a cultural event called the Osap Lesung Festival.

According to local communities in the village, celebrations like this are indeed carried out every year. It is a form of their gratitude to God for the fortune bestowed, and expect blessings for the fortune they get. The harvest is a rice that they plant with sweat for months to become rice to support all family members. So no wonder in the celebration which was previously known as the harvest thanksgiving party, marked by the dance of the Dayak tribe, which is full of meaning for the process of planting rice to make it ready to be served, such as Anye Ontat (Dayak tribe, made from rice flour sticky rice, usually served at other traditional parties).

In the series, there are several dances that symbolize process after process until the harvest. In the Bangen Tawai dance, it was described how much joy the community felt after successfully working on their fields. This pleasure is the deepest expression felt by the Dayak people for the opportunity God gave them to be able to gather with their families in preparing the fields. Also gratitude for God’s leadership they feel.

After Bangen Tawai, the Ponat Penega dance, told how brave the two young men were in fighting over a beautiful woman, and the victor would marry the woman. This dance also illustrates how the struggle of a man in reaching for something he wants.

The Nglaem dance, which was also delivered at the festival, successfully attracted the attention of visitors. Because in the dance, it is told how the courage and courage of men in dealing with various disturbances that confront in the life of the world. In the Oyan Oma dance, it is told how the process of detail in making fields from cutting, combining, planting, to reaping or picking.

Then the Osap Dancer was closing in on the celebration. Lesung Osap dance revealed the process of making a traditional Dayak food ingredient, Anye Ontat. In order to obtain these foods, cooperation is needed in the work of pounding on Osap mortar or long mortar in full excitement, togetherness, and full of mutual cooperation to convert rice into flour, as an ingredient in Anye Ontat.

The uniqueness of this traditional party celebration is the main attraction for both local and foreign tourists, who came to see firsthand the thanksgiving procession that was also enlivened with the performing arts. Regent of Berau, H Muharram S. Pd MM and a number of officials in the ranks of the District Government of Berau, were present and mingled with the community. Various art performances brought by parents to teenage children who have been trained. In addition, the exhibition of handicraft products from the Bena Baru community was also displayed at the village custom hall, such as bracelets and souvenirs, which were also produced from the village.

The regent Muharram, said he was happy and happy with the excitement of the Lesung Osap Festival which had been prepared by the community by presenting many visitors. Even in the future, Muharram provides support so that this traditional party is held more lively and better.

“This traditional party not only carries out a hereditary tradition, but it is also very good as a tourist attraction for our region,” he said.

For this reason, Regent Muharram invited the people of Bena Baru Village to continue to improve into a tourism destination. Not only maintaining and preserving regional culture, but being and creating a comfortable village environment must be realized. Starting from making parks in every neighborhood of the residents and setting up good sanitation. With the beauty of this village, it is said to be an attraction and memory for tourists who come. So that those who come will bring good stories to finally bring in other tourists.

In addition, it is hoped that with the skills possessed by the Bena Baru community, it can continue to be improved so that it has superior products with distinctive characteristics for tourists. Berau District Government with the role of the regional national craft council (Dekranasda) delivered, will provide full support in developing skills to produce superior products.(Bangun Banua)

Post a comment

Book your tickets