Perjelas Status Hutan Mangrove Pulau Besing

Hutan mangrove di Kampung Pulau Besing, yang menjadi habitat hidup Bekantan, ternyata masih belum jelas statusnya. Padahal, hingga saat ini objek wisata tersebut ramai dikunjungi wisatawan. Untuk itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau berharap kepada Pemkab, agar hal ini bisa diperjelas, agar bisa segera dilakukan penataan dan kelengkapan sarana prasana penunjang objek wisata di sana.

Dikatakan Kepala Seksi Destinasi Pariwisata, Risma Rosehan SE, hingga saat ini pengelolaan dan pemanfaatan kawasan mangrove di Pulau Besing, masih jadi hak milik perorangan yang memiliki surat tanah di area yang masuk dalam wisata mangrove.

“Jadi kalau bisa statusnya ini diperjelas. Entah dibuatkan Peraturan Kampung (Perkam) atau bagaimana terkait kawasan mangrovenya. Sehingga pengelolaan dan penyediaan sarana parasarana penunjang objek wisata bisa diadakan. Selain itu, juga untuk menghindari adanya pungutan liar di dalam daerah mangrove kepada wisatawan. Kalau sudah jelas statusnya kan bisa dibuat tarif penyesuaian yang sama misalnya untuk pemilik perahu ketinting yang menyewakan kepada pengunjung. Dan dana yang ada bisa kembali digunakan untuk pengelolaan wisata itu sendiri,” ungkapnya ditemui pada Rabu (4/12).

Seperti yang diketahui, banyak potensi yang masih bisa digali dari Pulau Besing. Bahkan, untuk menyisir sungai sepanjang jalur mangrove pun bisa dijadikan wisata alam. Obyek wisata alam hutan Mangrove di Pulau Besing semakin menyenangkan dengan paduan pemandangan primata hidung panjang atau Bekantan yang hidup bebas di dalam hutan Mangrove Pulau Besing. Setiap pagi dan sore hari, primata yang memiliki nama latin Nasalis Larvatusini terlihat bermain dan bersantai di atas pohon yang berjajar di pinggir sungai Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). (bangun banua)

 

Clarify the Status of Besing Island Mangrove Forests

The mangrove forest in Kampung Pulau Besing, which is the living habitat of Bekantan, is still unclear. In fact, until now the tourist attraction is crowded with tourists. For this reason, the Department of Culture and Tourism (Disbudpar) of Berau hopes for the Regency Government, so that this can be clarified, so that arrangements and completeness of supporting facilities for tourism objects can be carried out immediately.

It is said the Head of the Tourism Destination Section, Risma Rosehan SE, until now the management and use of mangrove areas on Besing Island, is still the property of individuals who have land titles in the areas included in mangrove tourism.

“So if possible, this status will be clarified. Either the Village Regulation (Perkam) was made or how the mangrove area is related. So that the management and provision of infrastructure supporting tourist attractions can be held. In addition, also to avoid illegal fees in the mangrove area to tourists. If it’s clear the status can be made the same adjustment rates for example for ketinting boat owners who rent out to visitors. And the existing funds can be used again for the management of tourism itself, “he said met on Wednesday (4/12).

As you know, a lot of potential can still be explored from Besing Island. In fact, to comb the river along the mangrove track can be used as nature tourism. Mangrove forest tourism object in Besing Island is more fun with a combination of long nose primate or Bekantan views that live freely in the Mangrove forest of Besing Island. Every morning and evening, primates with the Latin name Nasalis Larvatusini are seen playing and relaxing in a tree lined on the banks of the Berau river, East Kalimantan (East Kalimantan).

Post a comment

Book your tickets