MENGENAL BUDAYA GUNUNG TABUR, KOLEKSI KERATON DAN MUSEUM BATIWAKKAL (Bagian 1)

Baddil (Meriam) Kuning

 

Bagian 1

“Sejarah Baddil Kuning”

Sultan Muhammad Zainal Abidin (  l  ), yang mulia adalah Raja Berau yang ke 14. Di jaman kekuasaannya ajaran agama Islam berkembang dengan pesatnya. Hukum Islam menjadi dasar pandangan hidup sehari-hari, mulai hal kecil sampai perkara yang besar. Dalam.pemutusan perkara yang berhubungan

dengan pelanggaran hukum adat  disidangkan didepan sultan. Sultan Muhammad Zainal Abidin mempunyai kesenangan dalam melakukan perburuan, yang menjadi tangkapan dalam pemburuannya seperti kijang, landak dan rusa (payau). Kedudukan istana Sultan Muhammad Zainal Abidin berpusat di Merancang, sedangkan tempat ibadahnya dibangun di Muara Sungai Lati yang bernama Rantau Mansijid.

Pada saat waktu senggang dimalam hari, sultan mengajak para pengawalnya untuk berburu, memasuki pedalaman Sungai Lati, namun sial sekali malam itu sangat sepi sekali tidaka ada binatang buruan yang keluar mencari makan. Didalam hutan terdengar gonggongan anjing, lalu sultan Muhammad Zainal Abidin memerintahkan pengawalnya untuk mendekati suara itu, ternyata tidak ada binatang yang mereka lihat, yang ada didepan anjing 2 buah meriam kuning yang tertata dengan rapinya saling berdekatan. Meriam ini berbantalkan atau bersandar disebuah batu hitam pekat.

Sultan memerintahkan untuk menaikkan kedua meriam kuning itu atau mereka sebut dengan baddil kuning keatas kuda, namun anehnya anjing disekitar mereka masih menggonggong mengarah kepada batu sandaran baddil tersebut, akhirnya benda itupun diangkat oleh pengawal raja.

Baddil Kuning saat itu menjadi sesuatu penemuan yang menghebohkan rakyat dan keluarga kerjaan, tentang dari mana assal muassal benda ini, siapa pemiliknya.

Disuatu waktu terjadilah penyakit menular yang amat luar biasa, penyakit ini mewabah dengan cepatnya. Keluarga raja dan hamba rakyat lainnya banyak yang korban,penggali makam kewalahan akhirnya pemakaman dubuat secara masal.

Sultan Muhammad Zainal Abidin bermimpi, dalam mimpinya dia membersihkan baddil kuning atau memandikannya,dan kemudian air dari bekas siraman it dibuanggnya duhulu sungai, kemudian dalam mimpinya itu dia melihat seluruh rakyatnya mandi di Sungai Lati, dan orang yang sakit dalam mimpinya sehat segar bugar kembali.

Akhirnya sultan bermusyawarah denga  para pengawal dan rakyatnya untuk merealisasikan apa yg telah dimimpinya.

Setelah proses pembersihan atau pemandian benda pusaka tersebut dilaksanakan dan air dari pemandian itu dibuang dihulu Sungai Lati, dan rakyat yang diperintahkan untuk mandi, minum dan mengambil untuk keperluan masak. Alhamdulillah seluruh rakyatnya secara berangsur  pulih dan sehat kembali seperti sedia kala.

Pada masa itulah sultan sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesembuhan kepada keluarga dan rakyatnya, karena semua itu atas ijin Nya jualah.

Kita mengambil tamsil yang ada dalam Al Quran,tentang cerita nabi Musa AS, yang tongkatnya bisa membelah laut, bisa menjadi ular yang besar. Atau tangan.nabi Muhammad yang bisa mengeluarkan air dan cahaya. Atau Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati,atau kemukjiijatan cincin nabi sulaiman yang pada saat ditimbang beratnya melebihi dari berat batu yg diambil oleh golinga. Jin, Semua itu karena atas ijin Allah SWT,tanpa injin dan kehendaknya kita tidak ada apa-apanya. Begitulah mungkin perbandingan benda pusaka Baddil Kuning.

Pada saat kesultanan Berau terbagi 2,yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung, Pusaka Baddil Kuning yang dulunya saling berdekatan juga terpaksa harus dipisah, satu buah di Kesultanan Gunung Tabur dan satu buahnya lagi dikesultanan Sambaliung.

Sultan Muhammad Zainal Abidin memerintah mulai tahu 1700 sampai 1740. Makam beliau ada di Muara Bangun. Sedangkan untuk benda pusaka Baddil Kuning milik kesultanan Gunung Tabur tersimpan dirumah kediaman Putri Sultan Achmad Maulana Muhammad Chalipatullah Jalaluddin (1921-1951), yang dikenal dengan Keraton Kesultanan Gunung Tabur, sedangakan Baddil Kuning yang satunya atau yang laki ada di Keraton Kesultanan Sambaliung.Allahualam Bissawwab. (ch*)

Post a comment

Book your tickets