Selain Paket Wisata, Perlu Juga Dilakukan Eksitu

PERLU  adanya paket wisata, dimana beberapa daya tarik yang ada menjadi satu kesatuan dalam tujuan perjalanan yang akan dilakukan wisatawan. Dan yang paling penting adalah adanya dilakukan proses eksitu (konservasi yang melindungi spesies tumbuhan dan hewan langka dengan mengambil dari habitat yang tidak aman atau terancam dengan ditempatkan ke perlindungan manusia).

“Eksitu yang dimaksud disini adalah khususnya untuk tanaman anggrek. Karena yang kita lihat di Tembudan ini banyak jenisnya seperti Anggrek Bulan dan Anggrek Hitam yang sudah hampir punah karena kejahilan orang untuk mengambilnya. Padahal, jenis flora ini memang harusnya dijaga dan dikembangkan lagi agar tidak cepat hilang dari habitatnya. Dan lagipula untuk eksitu anggrek juga tidak terlalu sulit kan, hanya ditempelkan ke pohon dan lalu akan hidup dengan inang pohonnya tersebut, sehingga akan terus tumbuh bibit-bibit atau tunas baru dari anggrek itu sendiri,” tambahnya.

 

Mengapa Eksitu terangkat, lantaran Disudpar Berau baru baru ini berkunjung ke Tembudan Kecamatan dan Ni enggo di Batu Putih yangmana berkaitan dengan pengembangan  wisata.Disparbud mengadakan rapat dengan pengelola wisata Kampung Tembudan.

Rapat ini merupakan pembenahan daerah wisata Dalam rapat tersebut, banyak hal dibahas mulai dari bagaimana konsep pengembangan wisata yang sebaiknya dilakukan dan apa saja yang seharusnya menjadi perhatian pengelola dan dibenahi untuk kenyamanan pengunjung atau wisatawan, khususnya yang berlibur di danau biru atau Danau Ni Lenggo.

“Sebenarnya di Kampung Tembudan itu untuk pengelolanya sudah ada yakni dari masyarakat itu sendiri, bahkan sudah dibentuk juga kelompok budaya tetapi memang belum dibuat secara terstruktur. Malah di sana (Tembudan) juga ada 11 paguyuban seni budaya, yang kami dari Disbudpar Berau mengarahkan supaya paguyuban yang ada tersebut diwadahkan dalam satu sanggar seni budaya yang diangkat dalam tingkat kecamatan,” jelas Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disbudpar Berau, Hotlan Silalahi, SE, M.Sc.

Selain itu, ada beberapa hal yang dibenahi agar Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sudah dibentuk itu menjadi pengelola wisata sepenuhnya dan berada di bawah unit usaha Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). Sehingga untuk pengelola keuangannya juga harus dibenahi supaya cash flow (laporan keuangannya) jelas aliran kasnya lari kemana. Ini juga agar nantinya pertanggungjawaban keuangan mereka sesuai dengan yang diharapkan di organisasi.

Yang terakhir, sanitasi terhadap limbah juga sangat perlu diperhatikan, apalagi untuk tempat wisata tirta yang riskan tercemar. Seperti yang ada di wisata Danau Ni Lenggo saat ini, dikatakan Hotlan masih bisa mencemari air danau itu sendiri. Pasalnya, ruang ganti pengunjung dan toiletnya berada di atas, dimana aliran airnya mengalir ke bawah dan bisa saja merembes ke danau sehingga mencemari air biru yang ada. Untuk itu, pengelola juga disarankan membuat tempat ganti dan toilet yang letaknya agak jauh dari danau. Atau bisa juga dengan mengalihkan jalur sanitasi menjauh dari danau.(bangun banua)

Post a comment

Book your tickets