Taliga Sagai, Kue dan Lagu Daerah Berau Yang Masuk Rekor MURI

Di Tuttuk tuttuk allu dilassung

Barras tugalan lanak jadi gulapung

Gula mira dipinyyik pinyyik diramas diamut dangagan gulapung

Digiling giling dipilluk pilluk

digawai  dami angka lapan

Diguring disugun saji bassi dibalik diajuk dangagan talung kayang

Lamun puri inda ammang ku marrang

Lamun purrai dami tallur biawan

Mamassai pagaddi sambat karamian pagaddi asli barau lain tiruan

 

LAGU ciptaan seniman daerah Odang Darmansyah (almarhum), ini kerap kita dengar di Kabupaten Berau, karena merupakan lagu daerah yang kerap dinyanyikan pada acara lomba lagu daerah, ataupun acara Hari Jadi Kota Tanjung Redeb, bahkan dinyanyikan pada acara hajatan atau kawinan.

Judulnya Pagaddi Angka Lapan atau disebut juga dengan Talinga Sagai, judul lagu tadi menceritakan   sebuah camilan kue yang cukup akrab di Bumi Batiwakkal , hingga menjadi oleh oleh bagi yang bertandang ke daerah wisata, Kabupaten Berau.

Cerita mengenai kue yang satu ini terkenal dengan bentuk uniknya dan rasa manis yang berasal dari gula merah. Hanya berbahan beras, gula merah, dan minyak goreng, kue yang sudah ada sejak zaman kesultanan ini menjadi kue khas yang hanya ada di saat tertentu.

Tak hanya itu, Talinga Sagai juga sudah pernah menembus rekor Muri menyantap makanan khas Berau terbanyak yang melibatkan 2.000 pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Berau, pada 15 Juli 2012 lalu.

Kue ini mirip dengan kue cincin yang banyak dijual di pasar dan beberapa daerah di Kalimantan Timur , tetapi bentuknya seperti angka delapan. Cara membuatnya pun tak bisa sembarangan. Selain harus memiliki keterampilan dalam proses penggulungan hingga pembentukan angka 8, bahan yang dicampurkan juga harus seimbang. Kue ini terbuat dari tepung dan gula merah diaduk dan proses memasaknya digoreng. Sedangkan dari arti bahasanya, Talinga Sagai berarti kuping.

Dikatakan Saidah, salah satu pembuat kue Talinga Sagai yang berada di Jalan Dermaga Gang. Karang Anyar Tanjung Redeb ini, untuk bahan yang digunakan juga harus memiliki kualitas yang bagus agar hasil yang didapat juga sesuai keinginan.

“Khususnya untuk gula merah, itu harus menggunakan gula merah yang bagus, kalau bisa bukan gula merah campuran. Karena, itu berpengaruh di hasil akhirnya nanti. Kalau gula merahnya kualitas bagus maka kuenya akan lembek dan teksturnya halus, sedangkan kalau menggunakan gula merah seadanya ya hasilnya kuenya akan keras, kalau dipegang rapuh atau mudah patah,” jelasnya pada Minggu (28/10).

Kue satu ini  juga sudah dikenal hingga luar Berau. Bahkan, wisatawan baik lokal maupun wisatawan asing juga memasukkan Talinga Sagai sebagai salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Berau di dalam listnya.(bangun banua)

Post a comment

Book your tickets