Tepian Teratai Jadi Catwalk Berau Carnival

This slideshow requires JavaScript.

SETELAH  mengikuti pelatihan selama 2 hari sejak Senin (12/11/2018), Rabu sore (14/11/2018)  peserta yang sudah terbagi menjadi 4 kelompok memamerkan hasil karya mereka secara publik. Tak tanggung-tanggung, jalan Pulau Derawan atau tepian Teratai yang biasa menjadi tempat kongkow, menjadi sasaran.

Ratusan mata memandang dengan decak kagum tatkala jajaran model yang menggunakan kostum karnaval berbentuk Burung Enggang itu melintasi jalanan. Bahkan, kendaraan yang lewat pun terhenti meskipun sejenak hanya untuk melihat kemegahan kostum yang ditampilkan. Mulai dari usia muda hingga dewasa pun saling berebut untuk dapat berfoto bersama para model yang memperagakan kostum tersebut.

Tontonan yang terbilang baru bagi masyarakat Berau ini nyatanya memang benar-benar menyihir baik para pengendara maupun pejalan kaki. Tak tanggung-tanggung, sejak keluar dari Hotel Bumi Segah tempat dimana mereka merakit kostum hingga jadi, sudah banyak yang melihat dan penasaran untuk dapat mendekat agar terlihat lebih jelas lagi bentuk kostum yang digunakan  model.

Ternyata, gagasan membuat pelatihan kostum karnaval ini terbersit dari Ketua DPRD Berau, Syarifatul Sya’diah, yang kemudian disampaikan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, dan disambut dengan baik.

“Saya senang dan bangga melihat ternyata gagasan yang saya sampaikan mendapat sambutan seperti ini baik dari Disbudpar Berau maupun masyarakat. Bahkan, yang lebih mengejutkan ternyata peserta yang berasal dari berbagai kalangan dan usia ini, bisa mengikuti setiap step yang diberikan oleh instrukturnya, pak Agus dengan baik, sehingga hanya dalam waktu singkat bisa menghasilkan karya seperti ini,” terangnya ditemui di sela-sela performance tiap kelompok pelatihan.

Malah, lebih lanjut dikatakannya, memang Berau sudah seharusnya diberikan tontonan dengan kualitas berkelas seperti ini, dengan menampilkan model kostum karnaval terkini khususnya di acara hari jadi Kabupaten. Tak hanya itu, untuk ke depannya pun sambutan dan dukungan penuh juga akan diberikan kepada Disbudpar jika performance kostum ini dimasukkan dalam agenda tahunan.

“Kita mendukung sekali ya, apalagi ini juga untuk mendongkrak pariwisata yang ada. Bahkan, untuk penampilan kostumnya sendiri bisa jadi tidak hanya digelar di Kota Tanjung Redeb saja, tetapi juga bisa sesekali ditampilkan di tempat wisata misalnya sebagai sambutan pengunjung atau wisatawan. Apalagi untuk desainnya sendiri juga sudah khas Kalimantan yaitu Burung Enggang, jadi sudah klop,” imbuhnya.

Kostum dengan tinggi sekitar 5 meter dan berat kurang lebih 17 kilogram itu memang tak mudah untuk digunakan. Namun, semangat meskipun harus berpeluh tetap ditunjukkan para model. Dengan ramah juga mereka memberikan pose terbaik ketika diajak berfoto warga.

Dikatakan Agus Sunandar, Dosen Tata Busana Universitas Negeri Malang yang mendesain pola hingga bentuk kostum ini, apa yang dihasilkan para peserta pelatihan memang sangat luar biasa. Tak ada kata lelah dari para peserta, bahkan hingga harus berjalan membawa beban belasan kilo hanya untuk memperlihatkannya secara luas kepada masyarakat Kabupaten Berau.

“Saya takjub dan bangga juga tentunya. Semua peserta menunjukkan semangat luar biasa sampai bisa sejauh ini. Dan untuk kostumnya sendiri, jika ada yang bertanya mengapa bentuk atasnya seperti wayang Jawa, jawabannya adalah memang benar. Hanya saja, untuk pola dan lekukan yang ada didalamnya memang saya buat sesuai dengan desain Berau, yakni Dayak. Dan untuk tambahan aksennya seperti pecahan kaca di bagian tertentu dan payet-payet memang sengaja dipasang sedemikian rupa agar kostumnya sendiri terlihat wah,” jelasnya.

Diungkapkan Agus, syarat untuk kostum karnaval memang ada 2 yaitu megah atau mewah dan monumental. Dan untuk desain kostum yang dibuat oleh para peserta ini sudah memenuhi keduanya.

“Mewah sudah pasti dengan adanya tambahan aksen kaca dan payet itu sehingga dari jauh saja sudah kelihatan bling-blingnya. Sedangkan untuk monumentalnya sudah terlihat dari size atau ukuran kostumnya yang menjulang tinggi dengan bentuk khas yang memperlihatkan ikon suatu daerah. Dan tidak menutup kemungkinan nantinya para peserta bisa mengembangkan sendiri desain yang sudah ada, dengan menambahkan pola flora atau fauna lain yang menjadi ikon Berau seperti Penyu,” pungkasnya. (bangun banua)

Post a comment

Book your tickets