Wisata Baru Kakarao dan Sibuyan di Kampung Tembudan

SUDAH pernah mengunjungi Danau Ni Lenggo yang ada di Kampung Tembudan? Suasana alamnya yang masih alami dan airnya yang berwarna biru memang sangat memanjakan mata. Tetapi, tahukah jika di Kampung Tembudan ternyata masih ada banyak objek wisata lain yang patut dikunjungi. Diantaranya adalah Air Terjun Kakarao dan Goa Sibuyan.

Tak jauh dari danau biru yang sudah tersohor hingga ke luar Berau, ada objek wisata lain yang masih alami, bahkan masih belum diketahui secara luas. Jalanan setapak bebatuan yang dilewati saat menuju ke air terjun bercabang 2 itu memang sudah layak dilintasi. Selain fisik jalan yang sudah bagus, kendaraan pun bisa masuk hingga mendekati lokasi air terjun.

Sepanjang jalan menuju ke Kakarao, kita disuguhkan dengan pemandangan alam dan beragam jenis satwa yang ada di sana. Ada Payau, ayam hutan, Gagak, bahkan juga terlihat Enggang yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Berau. Wajar jika banyak fauna yang muncul ketika kita melewati jalanan tersebut, pasalnya, banyak juga terdapat pohon buah makanan burung yang tumbuh di sekitar air terjun. Tak hanya itu, tumbuhan hutan yang terkenal hingga mancanegara seperti Anggrek hutan juga banyak tumbuh di sana.

Wisatawan yang datang ke Kakarao juga bisa menikmati segarnya aliran air yang turun dari pegunungan sekitar. Dasar bebatuan yang ada juga menjadi pijakan yang bagus untuk sekadar duduk sambil merendam kaki, atau bersantai sambil merasakan sensasi kesejukan yang dinikmati dari air terjun sekaligus mendengar suara hewan-hewan yang hidup di sekitarnya.

Air terjun Kakarao adalah aliran air yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS), dimana di ujungnya terdapat danau kecil yang menjadi tempat berkembang biaknya buaya. Namun, jangan khawatir, bagi pengunjung yang kesana, tetap bisa menikmati atau mandi di air terjun tersebut karena posisi lokasi buaya hidup dan air terjunnya cukup jauh. Yang lebih penting lagi, buaya juga tidak akan bisa naik ke air terjun karena dasaran bebatuan, dimana bukan menjadi habitat si buaya.

Berjalan lebih jauh ke dalam area Kampung Tembudan, kurang lebih satu kilometer dari air terjun Kakarao, kita akan menemui goa yang disebut dengan Goa Sibuyan oleh masyarakat setempat. Goa yang di dalamnya banyak stalagtit dan stalagmit, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hendak kesana. Menariknya lagi, di dalam goa terdapat beberapa spot yang menjadi celah masuknya cahaya matahari, sehingga membuat stalagtit dan stalagmit yang ada merefleksikan cahaya matahari menjadi berwarna warni pelangi. Tetapi pengunjung yang masuk ke goa Sibuyan juga harus hati-hati saat melangkah, karena bisa saja salah menginjak kotoran kelelawar yang mendiami goa tersebut.

Meskipun belum terekspos secara luas, rupanya dua objek wisata ini sudah banyak dikenal, karena pemandu wisata yang ada di Danau Ni Lenggo sudah sering membawa pengunjung ke dua objek wisata tersebut. Hanya saja, untuk kendaraan yang membawa wisatawan atau pengunjung kesana masih terbatas, malah untuk saat ini hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi.

Memang secara kepemanduan sudah dikenalkan, tetapi untuk tarif perjalanan wisatanya masih belum ditetapkan, alias masih terserah dari wisatawan mau memberi berapa. Tetapi untuk ke depannya, sudah dirembugkan dan dirapatkan dengan pengelola disana agar dua objek wisata tersebut, air terjun Kakarao dan goa Sibuyan untuk bisa dimasukkan dalam paket perjalanan wisata dengan Danau Biru. Apalagi, saat ini untuk pemeliharaan goa dan air terjun ini berada di kawasan tanah adat, dimana ada pengelompokan tanah adat yakni masyarakat diberi wewenang untuk petak adat sehingga pengelolaannya secara sendiri dari adat. Dan untuk pengamanan lingkungan juga cukup aman dan ini bisa berkelanjutan apabila pembinaannya didasari oleh pariwisata. Artinya ini menjadi aset wisata yang potensial untuk terus dikembangkan.

Tak hanya itu, jika sudah masuk dalam satu paket wisata Kampung Tembudan, ke depannya, pengelola harus membuat taman mini yang didalamnya berisi flora yang tumbuh di sana untuk diperjualbelikan. Istilahnya, pengembangan harus secara konservasi dan ada juga pembibitan anggrek misalnya, itu yang bisa dikomersilkan. Dan juga penyediaan rambu-rambu wisata dan armada untuk ke lokasi, apakah itu roda 2 atau roda 4 untuk membawa wisatawan, tapi dengan catatan itu dihitung dalam paket wisata.(bangun banua)

 

This slideshow requires JavaScript.

Post a comment

Book your tickets