Wisata mangrove Semanting Sasaran Masyarakat Menuju Go Green

KABUPATEN Berau menjadi Kabupaten pertama di Indonesia yang memiliki skema pengelolaan ekosistem mangrove lestari berbasis masyarakat, setelah pemerintah pusat menerbitkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 4 tahun 2017 tentang kebijakan, strategi, Program, dan Indikator Kinerja Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional atau Stranas Mangrove.

Setelah Kampung Tanjung Batu di launcing mangrovenya beberapa bulan lalu, kita kampung Teluk Semanting, wisata mangrove ini hasil dari swadaya masyarakat bersama FLIM (forum lingkungan Mulawarman).

Menurut keterangan Hotlan Silalahi SE M Sc Kepala bidang pengembangan destinasi pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau, mangrove di teluk semanting merupakan wisata edukasi mangrove. “Yang sasaranya untuk masyarakat menuju go green, agar mencintai alam dan lingkungan,” paparnya.

Disisi lain , agar wisatawan yang datang ke kabupataen Berau menetap lebih lama, kaena banyak wisata yang dikunjungi. Ketika akan ke Pulau Derawan, wisatawan melewati teluk  semanting dan Tanjung Batu. Di teluk semanting bisa menyaksikan mangrove dengan binatang bekantan. Serta ada wisata edukasi yang mana wisatawan bisa menanam mangrove karena area pembibitan yang telah disediakan pengelola.

Selanjutnya mengunjungi kampung Tanjung Batu dengan aneka wisatanya.

Disebutkan Hotlan, setiap kampung memiliki daya tarik tersendiri, semisal kampung Tanjung Batu meski memiliki mangrove tidak sama dengan Semanting. Di Semanting memiliki binatang monyet bekantan (nasalis lavartus)  yang hidup di pohon pohon mangrove serta beraneka jenis burung.

Adapun  kawasan pengelolaan mangrove  di Semanting yang luasnya 8.933.15 hektar, memiliki luas mangrove 761,1 hektar

Dengan raga jenis mangrove diantaranya avicenniaceae, myrsinaceae, palmoe dan mangrove asosiated lainya.(bangun banua)

 

This slideshow requires JavaScript.

Post a comment

Book your tickets