Workshop Kostum Karnaval Berau, Desain Burung Enggang Dipilih

PULUHAN  peserta yang berada di ballroom Hotel Bumi Segah dengan antusias mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh instruktur dari Malang dalam acara Workshop Kostum Karnival, Senin (12/11). Mulai dari pembuatan desain, pewarnaan, pemotongan kain, hingga pemasangan rangka pada pola yang sudah dibuat. Burung Enggang, itulah desain kostum yang dibuat oleh tiap kelompok yang terdiri dari 10 orang setiap timnya.

Masing-masing dari peserta baik perempuan maupun laki-laki, memegang peralatannya sendiri-sendiri, seperti gunting, cutter, lem, batang nipah, dan kain. Mereka asyik memotong, memberi warna, dan menyatukan setiap bagian yang sudah dibentuk. Bukan sekadar melakukan apa yang diarahkan oleh instruktur, tetapi juga mengikuti dengan cermat setiap detil yang diberikan.

Dengan hati-hati, beberapa peserta memotong setiap bagian pola yang tergambar. Wajah serius dan penuh konsentrasi terlihat di setiap raut wajah. Bahkan, terkadang ada yang menyela dengan guyonan atau candaan agar mereka tak terlalu tegang ketika menggerakkan gunting dan pisau cutter yang ada di tangannya.

“Saya senang sekali ada pelatihan seperti ini. Apalagi langsung praktik pembuatannya, jadi bekal yang didapat bukan hanya teori sehingga kita sebagai peserta juga tidak hanya meraba-raba seperti apa sebenarnya bentuk dari kostum yang akan dibuat. Apalagi saya sendiri juga sebagai pembina tari di kampung, yang memang membutuhkan ide baru yang bisa diterapkan dalam pembuatan kostum menari anak didik saya. Karena itu saya rela datang jauh ke Tanjung Redeb ini agar bisa mendapatkan ilmu baru yang belum tentu bisa didapatkan di kemudian hari dengan free,” terang salah satu peserta asal Kampung Bena Baru, Solem Susanti yang ditemui di sela pelatihan.

Senada, peserta lainnya yang juga memiliki usaha salon pengantin dan penyewaan baju di Karang Ambon, Muliyati, juga mengaku sangat senang mendapatkan pelatihan ini. Karena dengan begini, kata dia akan bisa menjadi peluang baru bagi dirinya dan teman-temannya, untuk bisa membuat kostum baru yang menampilkan ciri khas Kalimantan khususnya Kabupaten Berau.

“Saya datang berlima dengan teman-teman penjahit, dan mereka bilang ini bisa menjadi kesempatan emas untuk bisa mengembangkan usaha rumahan yang selama ini dijalankan. Apalagi, saya sendiri juga sering menyewakan baju saat karnaval, jadi nanti apa yang didapat dari pelatihan ini bisa saya aplikasikan misalnya membuat kostum baru untuk kemudian disewakan,” jelasnya.

Agus Sunandar, Dosen Tata Busana Universitas Negeri Malang yang didatangkan sebagai instruktur, juga mengaku sangat senang melihat semangat peserta. Karena, dengan sem  lekukan yang ada memiliki ciri khas. Misalnya, untuk desain bagian sayap ini tiap detilnya memilki lekukan yang khas dari ukiran suku Dayak di Kalimantan, yang tidak dimiliki oleh daerah lain,” katanya.

Sedangkan untuk bentuk kostum berupa Burung Enggang, dikatakan Agus dipilihnya fauna endemik Kalimantan itu karena memang merupakan ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain. Burung yang lebih dikenal sebagai Rangkong ini, konon disakralkan oleh suku Dayak. Masyarakat Dayak meletakkan posisi burung Enggang layaknya menghormati pencipta. Hampir keseluruhan bagian tubuh Enggang selalu disimbolkan dalam benda yang digunakan dalam keseharian masyarakat Dayak, misalnya rumah adat, baju adat, bahkan tato yang melambangkan burung ini. Sehingga nantinya kostum yang dibuat memang menjadi ciri khas Kalimantan, dimana orang melihat dari bentuknya saja sudah tahu kalau itu berasal dari Kalimantan.

“Untuk saat ini, karena workshopnya juga singkat hanya 3 hari, saya hanya membuat 1 desain saja agar menjadi bahan acuan peserta, yang nantinya akan bisa dikembangkan oleh para peserta sendiri. Karena saya lihat potensi yang ada di Berau khususnya sangat banyak. Belum floranya, tirtanya, itu semua bisa dituangkan menjadi ide untuk membuat kostum karnaval,” tambah lelaki paruh baya yang juga menjadi Chairman Malang Flower Carnival Indonesia ini.

Dalam pelatihan pembuatan desain dan kostum karnaval budaya lokal yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau pada Senin (12/11/2018) hingga Rabu (14/11/2018) itu, diikuti oleh 40 peserta dari semua gender baik laki-laki maupun perempuan, dengan basic pemilik usaha salon, guru kesenian, penjahit dan ada juga yang ibu rumah tangga.

Dibuka oleh Asisten I Sekretariat Kabupaten (Setkab) Berau, Anwar, pelatihan langsung dimulai dengan pengenalan sejarah dan perkembangan fashion karnaval, dilanjutkan dengan praktik pembuatan desain dan pola kostum sesuai dengan ciri khas Kalimantan.

Sedangkan Kepala Disbudpar Berau, Mappasikra Mappeseleng dalam sambutannya mengatakan jika gelaran workshop desain kostum karnaval ini untuk memberikan ide-ide segar kepada para peserta, agar bisa lebih kreatif dalam membuat kostum nantinya. Bahkan, katanya, untuk kostum burung Enggang yang dibuat oleh peserta akan dimasukkan dalam agenda karnaval Berau selanjutnya.

“Saya pesan kepada pak Agus, instrukturnya agar desain yang dibuat itu bisa mengeluarkan atau menunjukkan ciri khas Kalimantan. Dan untuk gelaran karnaval baik hari jadi Kabupaten Berau atau yang lainnya seperti pameran, bisa ditampilkan,” katanya.(Bangun Banua)

Post a comment

Book your tickets